Abuyadimyati orang Jakarta biasa menyapa, dikenal sebagai sosok yang sederhana dan tidak kenal menyerah. Kata Abuya, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna, setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat. Ketika mondok di Watucongol, Abuya sudah diminta untuk mengajar oleh Mbah KataAbuya, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna, setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat. Abuya Dimyati merintis pesantren di desa Cidahu, Pandeglang, Banten sekitar tahun 1965, dan telah banyak melahirkan ulama-ulama ternama seperti Habib Hasan bin Ja'far Assegaf Ruqayah Sejak kecil Abuya Dimyati sudah menampakan kecerdasan dan keshalihannya. Ia belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya, menjelajah tanah Jawa hingga ke pulau Lombok demi memenuhi pundi-pundi keilmuannya. kata Mbah Dim, thariqah aing mah ngaji!, yang artinya ngaji dan belajar adalah thariqahku. Bahkan kepada putera-puterinya . Ditulis oleh Yuliantoro Tuesday, 25 August 2009 Sinopsis Buku Manakib Abuya Cidahu Dalam Pesona langkah di Dua Alam Alangkah ruginya orang Indonesia kalau tidak mengenal ulama satu ini. Orang bulang Mbah Dim, Banten atau Abuya Dimyati bin Syaikh Muhammad Amin. Beliau adalah tokoh kharismatik dunia kepesantrenan, penganjur ajaran Ahlusunah Wal Jama’ah dari pondok pesantren, Cidahu, Pandeglang, Banten. Beliau ulama yang sangat konsen terhadap akhirat, bersahaja, selalu menjauhi keduniawian. Wirangi hati-hati dalam bicara, konsisten dalam perkataan dan perbuatan. Ahli sodakoh, puasa, makan seperlunya, ala kadarnya seperti dicontohkan Kanjeng Nabi, humanis, penuh kasih sesama umat manusia. Kegiatan kesehariannya hanya mulang ngaji mengajar ilmu, salat serta menjalankan kesunatan lainnya. Beliau lahir sekitar tahun 1925 anak pasangan dari dan Sejak kecil Abuya Dimyathi sudah menampakan kecerdasannya dan keshalihannya, beliau belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya mulai dari Pesantren Cadasari, kadupeseng Pandeglang, ke Plamunan hingga ke Pleret Cirebon. Semasa hidupnya, Abuya Dimyathi dikenal sebagai gurunya dari para guru dan kiainya dari para kiai, sehingga tak berlebihan kalau disebut sebagai tipe ulama Khas al-Khas. Masyarakat Banten menjuluki beliau juga sebagai pakunya daerah Banten, di samping sebagai pakunya negara Indonesia . Di balik kemasyhuran nama Abuya, beliau adalah orang yang sederhana dan bersahaja. Kalau melihat wajah beliau terasa ada perasaan adem’ dan tenteram di hati orang yang melihatnya. Abuya Dimyati, begitu panggilan hormat masyarakat kepadanya, terlahir tahun 1925 di tanah Banten, salah satu bumi terberkahi. Tepatnya di Kabupaten Pandeglang. Abuya Dimyathi dikenal sosok ulama yang cukup sempurna dalam menjalankan perintah agama, beliau bukan saja mengajarkan dalam ilmu syari’ah tetapi juga menjalankan kehidupan dengan pendekatan tasawuf, tarekat yang dianutnya tarekat Naqsabandiyyah Qodiriyyah. Maka wajar jika dalam perilaku sehari-hari beliau penuh tawadhu’, istiqamah, zuhud, dan ikhlas. Abuya adalah seorang qurra’ dengan lidah yang fasih. Wiridan al-Qur’an sudah istiqamah lebih dari 40 tahun. Kalau shalat tarawih di bulan puasa, tidak turun untuk sahur kecuali setelah mengkhatamkan al-Qur’an dalam shalat.. Oleh karenanya, tidak salah jika kemudian kita mengategorikan Abuya sebagai Ulama multidimensi. Dibanding dengan ulama kebanyakan, Abuya Dimyathi ini menempuh jalan spiritual yang unik. Beliau secara tegas menyeru “Thariqah aing mah ngaji!” Jalan saya adalah ngaji. Sebab, tinggi rendahnya derajat keualamaan seseorang bisa dilihat dari bagaimana ia memberi penghargaan terhadap ilmu. Sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Mujadilah ayat 11, bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. Dipertegas lagi dalam hadis nabi, al-Ulama’u waratsatul anbiya’, para ulama adalah pewaris para nabi. Ngaji sebagai sarana pewarisan ilmu. Melalui ngaji, sunnah dan keteladanan nabi diajarkan. Melalui ngaji, tradisi para sahabat dan tabi’in diwariskan. Ahmad Munir berpendapat bahwa ilmu adalah suatu keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahannya. Saking pentingnya ngaji dan belajar, satu hal yang sering disampaikan dan diingatkan Mbah Dim adalah “Jangan sampai ngaji ditinggalkan karena kesibukan lain atau karena umur”. Pesan ini sering diulang-ulang, seolah-olah Mbah Dim ingin memberikan tekanan khusus; jangan sampai ngaji ditinggal meskipun dunia runtuh seribu kali! Apalagi demi sekedar hajatan partai. Urusan ngaji ini juga wajib ain hukumnya bagi putra-putri Mbah Dim untuk mengikutinya. Bahkan, ngaji tidak akan dimulai, fasal-fasal tidak akan dibuka, kecuali semua putra-putrinya hadir di dalam majlis. Itulah sekelumit keteladanan Mbah Dimyati dan putra-putrinya, yang sejalan dengan pesan al-Qur’an dalam surat al-Tahrim ayat 6, Qu anfusakum wa ahlikum naran. Dahaga akan ilmu tiada habis, satu hal yang mungkin tidak masuk akal bila seorang yang sudah menikah dan punya putra berangkat mondok lagi, bahkan bersama putranya. Tapi itulah Abuya Dimyati, ketulusannya dalam menimba ilmu agama dan mensyiarkannya membawa beliau pada satu tingkat di atas khalayak biasa. Abuya berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah Jawa. Di antaranya Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri Mama Sempur, Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi. Kesemua guru-guru beliau bermuara pada Syech Nawawi al Bantany. Kata Abuya, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna, setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.hal 396. Ketika mondok di Watucongol, Abuya sudah diminta untuk mengajar oleh Mbah Dalhar. Satu kisah unik ketika Abuya datang pertama ke Watucongol, Mbah Dalhar memberi kabar kepada santri-santri besok akan datang kitab banyak’. Dan hal ini terbukti mulai saat masih mondok di Watucongol sampai di tempat beliau mondok lainya, hingga sampai Abuya menetap, beliau banyak mengajar dan mengorek kitab-kitab. Di pondok Bendo, Pare, Abuya lebih di kenal dengan sebutan Mbah Dim Banten’ dan mendapat laqob Sulthon Aulia’, karena Abuya memang wira’i dan topo dunyo. Pada tiap Pondok yang Abuya singgahi, selalu ada peningkatan santri mengaji dan ini satu bukti tersendiri di tiap daerah yang Abuya singgahi jadi terberkahi Namun, Kini, waliyullah itu telah pergi meninggalkan kita semua. Abuya Dimyathi tak akan tergantikan lagi. Malam Jumat pahing, 3 Oktober 2003 M/07 Sya’ban 1424 H, sekitar pukul 0300 wib umat Muslim, khususnya warga Nahdlatul Ulama telah kehilangan salah seorang ulamanya, KH. Muhammad Dimyati bin KH. Muhammad Amin Al-Bantani, di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten dalam usia 78 tahun. Padahal, pada hari itu juga, dilangsungkan acara resepsi pernikahan putranya. Sehingga, Banten ramai akan pengunjung yang ingin mengikuti acara resepsi pernikahan, sementara tidak sedikit masyarakat –pelayat- yang datang ke kediaman Abuya. Inilah merupaDeden Gunawan - detikNewsFoto Rizal Maslan/detikcomBanten - Sosok Abuya Cidahu, sangat melekat dibenak masyarakat Banten khususnya dan Indonesia pada umumnya. Sosok ulama dan pejuang kemerdekaan di Banten ini kini bisa dinikmati melalui sebuah buku biografi berjudul Buku Manaqib Abuya Cidahu, Dalam Pesona Langkah di Dua Manaqib Abuya Cidahu ini diluncurkan oleh putra kedua ulama kharismatik itu, KH M Murtadlo Dimyathi di Pondok Pesanteren Cidahu, Kelurahan Cidahu, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Banten, pekan lalu. Dalam acara peluncuran tersebut hadir sejumlah pejabat Provinsi Banten dan Padeglang, serta Mur, sapaan akrab KH Murtadlo Dimyathi ini mengatakan, Buku Manaqib Abuya Cidahu ini merupakan perjalanan hidup ayahnya yang merupakan tokoh ulama dan juga mantan pejuang di masa kemerdekaan. Oleh sebab itu kenapa dirinya memberi judul tulisannya itu dengan kata-kata 'Dalam Pesona Langkah di Dua Alam'."Singkat kata manaqib adalah perjalanan hidup yang baik dan terpuji, baik menurut adat, bangsa dan negara. Pesona Langkah di Dua Alam, karena Abuya selain seorang ulama juga seorang pejuang," katanya yang ditemui detikcom di kediamannya di Pandeglang, Sabtu 15/11/2008.Kak Mur menjelaskan, buku yang dibuat tentang ayahnya itu menceritakan hidup Abuya Cidahu semasa kecil, baik dalam hal menuntut ilmu agama ke sejumlah pesantren di seluruh Jawa, perjuangan syiar Islam dan juga perjuangannya melawan kolonialisme Belanda melalui Laskar Hisbullah di wilayah Banten dan Jawa Kak Mur, Buku Manaqib Abuya Cidahu bisa dibaca siapa saja, tidak hanya kalangan santri agar bisa diambil pelajarannya. Namun begitu, Kak Mur mengingatkan, agar para pembacanya harus hati-hati dan bisa memahami yang dalam kisah perjuangan ulama dan pejuang Banten ini penuh nilai-nilai dan norma agama bernaunsa tasawuf. "Oleh sebab itu, kita nggak banyak-banyak menerbitkannya. Tapi bagi yang mau baca silakan saja, jangan dipraktikan kalau belum memahami agama Islam secara utuh," Manqib Abuya Cidahu setebal 400 halaman dengan kertas HVS dibagi dalam 14 Bab. Dimulai bab pertama yang mengisahkan kelahiran, masa kecil dan belajar Abuya Cidahu, termasuk tentang silsilah keluarganya yang masih keturunan Sultan Maulana Hasanuddin dan Syarif Hidayatullah mengisahkan hikmah-hikmah hidupnya selama menyebarkan ajaran Islam di Banten. Ketenaran Abuya Cidahu sendiri cukup dikenal para kiai sepuh di Jawa, terutama dari kalangan Nahdliyin NU dan juga para pejabat pemerintah pusat. Pada bab terakhir dikisahkan tentang wafatnya kiai yang dikenal sebagai Wali Qutb ini, pada awal bulan Oktober 2003 silam. ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ Assalaamu'alaikum ..... Kisah menarik perjalanan ulama besar banten ABUYA DIMYATI. dimyati atau d kenal dngan sebutan abuya dimyati adalah sosok yang kharismatik,beliau d kenal sebagai pengamal tarekat syadziliyah dan melahirkan banyak santri berkelas ,mbah dim begitu orang jakarta memanggil'a. Muhammad dimyati bin syaikh muhammad amin,dikenal sebagai ulama yang sangat kharismatik,murid'a ribuan dan tersebar hingga macanegara, Abuya dimyati orang jakarta biasa menyapa,d kenal sebagai sosok ulama sederhana dan tidak menyerah,hampir seluruh kehidupan'a di dedikasihkan untuk ilmu dan dakwah, Menelusuri kehidupan ulama banten ini seperti melihat warna-warni dunia SUFISTIK, Perjalanan spiritualnya dngan beberapa guru sufi seperti kiai dalhar watucongol, Perjuanganya yang patut d taladani, Bagi masarakat pandeglang provinsi banten mbah dim sosok sepupuh yang sulit tergantikan,lahir sekitar tahun 1919 d kenal pribadi bersahaja dan penganut tarekat yang d segani. Abuya dimyati juga kesohor sebagai guru pesantren dan penganjur ajaran Ah'lusunah wal jama'ah ,pondoknya d cidahu pandeglang banten,tidak pernah sepi dari para tamu maupun para pencari ilmu,bahkan menjadi tempat rujukan santri,pejabat hingga kiai,semasa hidupnya abuya dimyati di kenal sebagai gurunya dari para guru dan kiainya dari para kiai, Masarakat banten menjuluki beliau juga sebagai pakunya daerah banten,abuya dimyati d kenal sosok ulama yang mumpuni,bukan saja mengajarkan ilmu syari'ah tetapai juga menjalankan kehidupan dngan pendekatan tasauf,abuya di kenal sebagai penganut TAREKAT NAQSABANDIYYAH QODIRIYYAH, Tidak salah klw sampai skrang telah mempunyai ribuan murid,mereka tersebar di seluruh penjuru tanah air bahkan luar negri,sewaktu masih hidup pesantrennya tidak pernah sepi dari kegiatan mengaji,bahkan mbah dim mempunyai majlis khusus yang namanya majlis seng,hal ini d ambil d juluki seperti ini karena tiap dinding dari tempat pengajiannya sebagai besar terbuat dari seng d tempat ini pula abuya dimyati menerima tamu2 penting seperti pejabat pemerintah maupun para petinggi negri ,majlis seng ini lah yang kemudian di pakai'a untuk pengajian sehari2 semenjak kebakaran hingga samapai wafatnya. Lahir dari pasangan DAN sejak kecil memang sudah menampakan kecerdasan'a dan kesolehanya,beliaw belajar dari satu pesantren ke pesatren lain, seperti pesantren cadasari,kadupeseng pandeglang kemudian ke pesantren d plamunan hingga pleret cirebon, Abuya dimyati berguru pada ulama2 sepuh d tanah jawa,di antaran'a ABUYA ABDUL CHALIM,ABUYA MUQRI ABDUL CHAMID,MAMA ACHAMAD BAKRIMAMA SEMPUR,MBAH DALHAR WATUCONGOL,MBAH NAWAWI JEJARAN JOGJA,MBAH KHOZIN BENDO PARE,MBAH BAIDLOWI LASEM,MBAH RUKYAK KALIWUNGU dan masi banyak lagi,ke semua guru2 beliaw bermuara pada SYECH NAWAWI AL BANTANI Kata abuya dimyati,"para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna",d samping pula sebagai paku'a negara indonesia,setelah abuya berguru tak lama kemudian parakiai sepuh wafat. Ketika mondok d watucongol,abuya sudah d minta untuk mengajar oleh mbah dalhar, Satu kisah unik,ketika abuya dimyati datang pertama ke watucongol,mbah dalhar memberi kabar kepada santri2 besok akan datang "kitab banyak",dan hal ini terbukti mulai saat .masih mondok di watucongol sampai di tempat beliaw mondok lainya,hingga sampai abuya menetap,beliau banyak mengajar dan mengorek kitab2 di pondok bendopare,abuya lebih d kenal dengan sebutan"mbah dim banten",karena kewira'iannya di setiap pesantren yang d singgahinya selalu ada peningkatan santri mengaji, Saking pentingnya ngaji dan belajar,satu hal yang sering di sampaikan dan di ingatkan mbah dim adalah,"jngan sampai ngaji di tinggalkan karena kesibukan lain atau karena umur",pesan ini sering di ulang2,seolah2 mbah dim ingin memberikan tekanan khusus, jngan sampai ngaji di tinggalkan meskipun dunia runtuh seribu kali !, Salah satu cerita karomah yang di ceritakan gus munir adalah,dimana ada seorang kiai dari jawa yang pergi ke maqom SYEIKH ABDUL QODIR AL-JAELANI di irak,ketika itu kiai tersebut merasa bangga karena banyak kiai di indonesia paling jauh mereka ziarah adalah maqom NABI MUHAMMAD SAW,akan tetapi dia dapat menjarahi sampai ke maqom SYEIKH ABDUL QODIL AL-JAELANI,ketika sampai di maqom tersebut,maka penjaga maqom bertanya padanya,"dari mana kamubahasa arab",si kiai menjawab "dari indonesia", maka penjaganya langsung bilang"oh di sini ada setiap malam jum'at seorang ulama indonesia yang kalw datang ziarah dan duduk saja depan maqom,maka segenap penziarah akan diam dan menghormati beliaw,beliaw membaca al'quran maka penziarah lain akan meneruskan bacaan tersebut",maka kiai tadi kaget,dan berniat untuk menunggu sampai malam jum'at agar tahu siapa sebenarnya ulama tersebut,ternyata pada hari yang di tunggu2 ulama tersebut adalah abuya dimyati,maka kiai tersebut kagum,dan ketika pulang ke jawa,dia menceritakan bagai mana beliaw bertemu abuya dimyati di maqom SYEIKH ABDUL QODIR AL-JAELANI,ketika itu abuya masih di pondok dan mengaji dengan santri2nya, Di balik kemasyhuran nama abuya dimyati,beliau adalah orang yang sederhana dan bersahaja,kalaw melihat wajah beliau terasa ada perasaan adem dan tentram di hati orang yang melihatnya, Abuya dimyati menempuh jalan spiritual yang unik,beliau secara tegas menyeru "Thariqah aing mah ngaji!",jalan saya adalah ngaji,sebab tinggi rendahnya derajat ke ulamaan seseorang bisa di lihat dari bagai mana ia memberi penghargaan terhadap ilmu,sebagai mana yang termaktub dalam surat al-mujadilah ayat 11,"bahwa allah akan meninggikan orang2 yang beriman dan orang2 yang d beri ilmu pengetahuan",di pertegas lagi dalam hadist NABI MUHAMMAD SAW,"al-ulama'u waratsatul anbiya",para ulama adalah pewaris nabi, ngaji sebagai sarana pewarisan ilmu melalui ngaji,sunnah dan keteladanan nabi di ajarkan,melalui ngaji,tradisi para sahabat dan tabiin di wariskan,ahmad munir berpendapat bahwa ilmu adalah suatu keistimewaan yang menjadikan manusi unggul atas mahluk lainya guna menjalankan fungsi kekhalifahanya. Alam spritual. di banding dengan ulama kebanyakan,abuya dimyati ini menempuh jalan spiritual yang unik,dalam setiap perjalanan menuntut ilmu dari pesantren yang satu ke pesantren yang lain,selalu kegiatan abuya dimyati mengaji dan mengajar,hal ini pun di terapkan kepada parasantri, Abuya dimyati di kenal sebagai ulama yang komplet karena tidak hanya mampu mengajar kitab tetapi juga dalan ilmu seni kaligrafi atau khat,dalam seni kaligrafi ini,abuya mengajarkan semua jenis kaligrafi seperti khuf,tsulut,diwani,diwani jally,naskhy dan lain sebagainya,selain itu juga sangat mahir dalam ilmu membaca al-qur'an, Bagi abuya hidup adalah ibadah,tidak salah kalau KH,dimyati kaliwungu kendal jawa tengah pernah berucap bahwa belum pernah seseorang kiai yang ibadahnya luar biasa,menerutnya selama berada di kaliwungu tidak pernah menyia-nyiakan waktu,sejak pukul 6 pagi sudah mengajar hingga jam 1130 Setelah istirahat sejenak selepas dzuhur langsung mengajar lagi hingga ashar,selesai solat ashar mengajar lagi hingga magrib,kemudian wirid hingga isya,sehabis itu mengaji lagi hingga pukul24 malam,setelah itu melakukan aiyamul lail hingga subuh, Di sisi lain ada sbuah kisah menarik,ketika bermaksud mengaji di lasem,ketika bertemu denganya,abuya di suruh pulang,namun abuya justru smakin menggebu-gebu untuk menuntut ilmu,sampai akhirnya kia khasrtimatik itu menjawab,"saya tidak punya ilmu apa2", sampai pada satu kesempatan,abuya dimyati memohon di waris thariqoh,kh baidlowi pun menjawab,"mbah dim,dzikir itu sudah termaktub dalam kitab,begitu pula dengan shalawat,silahkan membuat sendiri saja,saya tidak bisa apa2,karena tarekat itu adalah sebuah wadzifah yang terdiri dari dzikir dan shalawat," Jawab tersebut justru membuat abuya dimyati penasaran untuk ke sikian kalinya dirinya memohon kepada kh baidlowi,pada akhirnya kiai baidlowi menyuruh abuya untuk solat istikhoroh,setelah melaksanakan solat tersebut sebanyak tiga kali,akhirnya abuya mendatangi kh baidlowi yang kemudian di ijazahi thariqot asy syadziliyah, Abuya dimyati di penjara Abuya dimyati di kenal sebagai salah satu orang yang sangat teguh pendirianya,sampai2 karena keteguhanya ini pernah di penjara pada jaman orde baru,abuya sempet di fitnah dan di masukan ke dalam penjara,hal ini di sebabkan abuya sangat berbeda prinsip dengan pemerintah,ketika terjadi pemilu tersebut abuya di tuduh menghasut dan anti pemerintah,abuya pun di jatohi vonis selama enam bulan,namun empat bulan kemudian abuya keluar dari penjara, Abuya dimyati dan kiai dalhar Ada cerita2 menarik seputar abuya dan pertemaunya dengan para kiai besar,di sebutkan ketika bertemu dengan kiai dalhar watucongol abuya sempet kaget,hal ini di sebabkan selama 40 hari abuya tidak pernah di tanya bahkan di panggil oleh kiai dalhar,tempat pada hari ke 40 abuya di panggil mbah dalhar,"sampeyan mau apa jauh2 datang ke sini," di tanya begitu abuya pun menjawab,"saya mau mondok mbah",kemudian kiai dalhar pun berkata,"perlu sampean ke tahui,bahwa disini tidak ada ilmu,justru ilmu itu sudah ada pada diri sampean,dari pada sampean mondok di sini buang2 waktu,lebih baik sampeyan pulang lagi ke banten,amalkan ilmu yang sudah ada dan syarahi kitab2 mbah mu,karena kitab tersebut masih perlu di perjelaskan dan sangat sulit di pahami oleh orang2 awam",mendengar jawaban tersebut abuya dimyati,"tujuan saya ke sini adalah untuk mengaji,kok saya malah di suruh pulang? kalau saya di suruh mengajar kitab,kitab apa yang mampu saya karang?"kemudian kiai dalhar memberi saran,baiklah kalau sampeyan mau tetap di sini, saya mohon ajarkan lah ilmu sampeyan kepada santri2 yang ada di sini dan sampeyan jngan punya temen2",kemudian kiai dalhar memberi ijazah tareqat syadziliyqh kepada abuya, Ada beberapa kitab yang di karang oleh abuya dimyati,di antaranya adalah,MIN HAJUL ISHTHIFA,kitab ini isinya menguraikan tentang hizib nashr dan hizib ikhfa,di karang pada bulan rajab H 1379/1959 M,kemudian kitab ASHLUL QODR,yang di dalamnya khususiat sahabat saat perang badar,tercat pula kitab ROSHNUL QODR,isinya menguraikan tentang hizib nashr,ROCHBUL QOIR 1 dan 2 yang juga sama isinya yaitu menguraikan tentang hizib nashr,selanjutnya kitab BAHJATUL QOLAID,NADZAM TI JANUD DARORI,kemudian kitab tentang tarekat yang berjudul AL-HADIYYATUL JALALIYYAH,di dalamnya membahas tentang tarekat syadziliyah, Abuya dimyati meninggalkan kita semua,pada malam jum'at pahing,30 oktober 2003m/07 sya'ban 1424 H,sekitar pukul 0300 wib,untuk umat muslim khususnya warga NU telah kehilangan salah seorang ulamanya,KH MUHAMMAD DIMYATI BIN KH MUHAMMAD AMIN AL-BANTANI,di cidahu,cadasari,pandeglang,banten dalam usia 78 th copas dr grup sebelah Oleh KH Thabary Syadzily - Abuya Dimyathi Mbah Dim Banten adalah seorang sosok ulama sejati yang wara' dan zuhud. Keilmuannya benar-benar melaut alias "bahrul 'ulum", sehingga semua bidang-bidang keilmuan Islam dikuasainya dengan baik, seperti ilmu fiqih, hadits, tafsir Al-Qur'an, mantiq logika, balaghah sastra Arab, tauhid, tasawuf, ilmu falaq, dan sebagainya. Pernah beliau mengajarkan kitab "Tafsir Ibnu Jarir At-Thabari 15 jilid" sampai khatam tamat hanya dalam jangka waktu 3 tahun. Padahal ulama Jawa ketika itu, jika mampu mengkhatamkannya diperkirakan membutuhkan waktu 15 tahun, mengingat bahasa di dalam kitab tafsir itu sangat sulit dan rumit sekali. Pernah pada pangajian di malam Selasa dan alhamdulillah ketika itu saya ikut mengaji, di dalam kitab tafsir Ibnu Jarir tulisannya banyak yang tidak tercetak, kemudian langsung beliau melanjutkan tulisan yang tidak tercetak itu dengan mudah dan baik tanpa mengalami kesulitan sedikitpun juga. Itulah di antara karamah beliau. Setelah tamat pengajian kitab "Tafsir Ibnu Jarir", kemudian diganti dengan kitab "Tafsir Ibnu Abi Hatim 15 jilid". Sayang sekali baru beberapa jilid mengaji, beliau sudah dipanggil Yang Maha Kuasa. Pada suatu hari, dalam suatu pengajian beliau bercerita sebagai ungkapan "tahaddus bin ni'mah menceritakan nikmat Allah SWT" tentang amalan-amalan yang beliau istiqamahkan. Kata beliau "Saya mengerjakan shalat tahajjud, as-sahar tidak tidur di malam hari dengan menghidupkan sepanjang malam dengan mengajarkan kitab-kitab kepada santri, shalat, dan ibadah-ibadah lainnya, dan "shaum ad-dahri" atau puasa sepanjang tahun kecuali 5 hari yang diharamkan puasa dimulai sejak umur sebelum baligh sekitar 10 tahun sampai sekarang". Subhanallah. Bagaimana dengan kita? Beliau sangat menghormat dan menghargai pemerintah dan tidak pernah mencela dan merendahkan pemerintah apalagi di pemerintahan yang ada ulamanya. Padahal, beliau pernah dizholimi oleh pemerintah bahkan dipenjara karena difitnah, tapi beliau tidak membalasnya dan beliau pasrahkan masalahnya kepada Allah SWT. Waktu di penjara, beliau sangat rajin beribadah, terutama shalat di malam hari. Bahkan beliau berkata Ibadah yang paling nikmat adalah ibadah di penjara. Saya sangat kesal dan kecewa sekali ketika sedang nikmati-nikmatnya mengerjakan shalat sunnah, tiba-tiba ada bunyi ayam kokok "kongkorongooook" menandakan tibanya menjelang awal waktu shubuh. Kita kehilangan beliau, ulama sejati yang wara', zuhud dan bahrul 'ulum. Do'a beliau sangat tajam sekali, karena beliau "Sang Waliyullah" yang banyak karamahnya. Alhamdulillah saya sering menyaksikan langsung karamah beliau. Semoga Allah SWT menerima semua amal shalih beliau dan Dia menempatkannya di surga! Al-Fatihah. [ Jakarta – Pakar filologi Islam, Ahmad Ginanjar Sya’ban mengungkap fakta baru tentang sosok ulama besar Sunda, KH. Muhammad Dimyathi b. Muhammad Amin atau dikenal dengan Abuya Dimyathi Ginanjar, selain memiliki kepakaran dalam bidang keilmuan fikih, alat, dan tasawuf, sosok Abuya Dimyathi Cidahu juga memiliki kepakaran dalam bidang ilmu qira’at al-Qur’an.“Kepakaran Abuya Dimyathi Cidahu dalam bidang ilmu qira’at al-Qur’an ini tercermin dari salah satu karya beliau, yaitu al-Tabsyîr fî Sanad al-Taisîr,” ungkap Ginanjar Sya’ban dalam tulisannya yang diunggah di akun Facebooknya, dikutip Sabtu 19/9/2020.Sebagaimana tersirat dari judulnya, risalah “al-Tabsyîr” memuat transmisi keilmuan dan genealogi intelektual sanad periwayatan Abuya Dimyathi Cidahu atas ilmu Qira’at Tujuh al-Qirâ’ât al-Sab’ah dari kitab “al-Taisîr fî al-Qirâ’ât al-Sab’ah” karya seorang ulama besar ilmu qira’at al-Qur’an dunia Islam yang hidup di abad ke-5 Hijri, yaitu al-Imâm Ibn Amr al-Dânî w. 444 H/ .Dalam pengantarnya, Abuya Dimyathi Cidahu menulisAmmâ ba’du. Maka berkatalah Muhammad Dimyathi anak dari Muhammad Amin al-Bantani. Tidak diragukan lagi bahwa ibadah yang dapat medekatkan kita kepada Allah, ibadah yang terbilang sangat penting, ibadah yang paling dianjurkan setelah ibadah-ibadah wajib adalah menekuni ilmu pengetahuan, berdzikir, dan juga membaca al-Qur’an di setiap waktu.Dikatakan oleh Abuya Dimyathi, bahwa setiap amalan harus memiliki pondasi ilmu pengetahuan yang kokoh. Karena itu, menuntut ilmu wajib hukumnya bagi seorang Dimyathi sendiri belajar ilmu qira’at al-Qur’an dari Kiyai Dalhar Watucongol Magelang, Jawa Tengah, w. 1959, yang terkenal sebagai salah satu ulama besar pada kemudian hari, Abuya Dimyathi mengajarkan ilmu qira’at al-Qur’an kepada anak-anak dan santri-santri beliau. Hal ini sebagaimana ditulis oleh Abuya Dimyathi dalam pengantar risalah “al-Tabsyîr”.Aku mengajarkan kepada anak-anakku dan kolega-kolegaku kitab “al-Taisîr” karangan Imam Abû Amrû Utsmân al-Dânî, seorang guru besar bidang ilmu qira’at al-Qur’an dalam qira’at tujuh [qira’ah sab’ah], juga nazhaman atas kitab “al-Taisîr” yang berjudul “Hirz al-Amânî wa Wajh al-Tihânî” karya Imam al-Syâthibî, yang juga dikenal dengan kitab “al-Manzhûmah al-Syâthibiyyah al-Lâmiyyah” yang disusun dalam bahr [metrum puisi Arab] “thawîl”Guru mengaji ilmu qira’at Abuya Dimyathi Cidahu, kata Ginanjar adalah KH. Dalhar Watucongol, mengambil jalur transmisi intelektual sanad keilmuan dalam bidang ini dari Syaikh Muhammad Mahfûzh b. Abdullâh al-Tarmasî al-Jâwî al-Makkî Syaikh Mahfuzh Tremas, w. 1920, seorang ulama besar madzhab Syafi’i yang mengajar di Makkah dan berasal dari Tremas, Pacitan, Jawa Timur.“Seorang sahabat, Muhammad Abid Muaffan sang santri kelana, memperlihatkan kepada saya naskah kitab ini beberapa waktu yang lalu,” ujar ini sanad lengkap ilmu qira’at Abuya Dimyathi yang berhasil dihimpun Ginanjar Sya’ban sebagaimana terdapat dalam “al-Tabsyîr”Maka aku [Abuya Dimyathi Cidahu] berkata aku meriwayatkan kitab-kitab karangan Aku meriwayatkan kitab-kitab karangan Imam Abû Amrû al-Dânî, di antaranya adalah kitab ini, yaitu “al-Taisîr”, juga kitab-kitab karangan Imam Syâthibî, di antaranya adalah kitab “al-Manzhûmah al-Syâthibiyyah”, juga kitab-kitab karangan Imam Ibn al-Jazarî, di antaranya adalah kitab “al-Nasyr”, yaitu dari 1 Syaikh Muhammad Nahrâwî b. Syaikh Abd al-Rahmân yang terkenal dengan nama Syaikh Dalhar Magelang Kiyai Dalhar Watucongol, beliau dari 2 Syaikh Muhammad Mahfûzh al-Tarmasî al-Makkî Syaikh Mahfuzh Tremas, beliau dari 3 Syaikh al-Muqrî Muhammad al-Syarbînî, beliau dari 4 Syaikh Ahmad al-Lakhbûth, beliau dari 5 Syaikh Muhammad Syathâ, beliau dari 6 Syaikh Hasan b. Ahmad al-Awâdilî, beliau dari 7 Syaikh Ahmad b. Abd al-Rahmân al-Basyîhî, beliau dari 8 Syaikh Abd al-Rahmân al-Syâfi’î, beliau dari 9 Syaikh Ahmad b. Umar al-Isqâthî, beliau dari 10 Syaikh Sulthân b. Ahmad al-Mazâjî, beliau dari 11 Syaikh Saif al-Dîn Athâ al-Fudhâlî, beliau dari 12 Syaikh Syahhâdzah al-Yamanî, beliau dari 13 Nâshir al-Dîn al-Thablâwî, beliau dari 14 Syaikh al-Islâm Zakariyâ al-Anshârî, beliau dari 15 Syaikh Abû al-Na’îm Radhawât al-Uqbî, beliau dari 16 Syaikh Muhammad b. Muhammad al-Jazarî, pengarang kitab “al-Nasyr”, beliau dari 17 Syaikh Abû Muhammad Abd al-Rahmân b. Ahmad b. Alî al-Baghdâdî al-Syâfi’î, beliau dari 18 Syaikh Abû Abdillâh Muhammad b. Ahmad b. Abd al-Khâliq al-Shâigh, beliau dari 19 Abû al-Hasan Alî b. Syujâ’ al-Mishrî al-Syâfi’î, beliau dari 20 Imam Abû Muhammad Qâsim al-Syâthibî, pengarang kitab “al-Syâthibiyyah”, beliau dari 21 Abû al-Hasan Alî al-Andalusî, beliau dari 22 Syaikh Abû Dâwûd Sulaimân, beliau dari 23 Syaikh Abû Amrû Utsmân al-Dânî, pengarang kitab “al-Taisîr”Sang pengarang kitab “al-Taisîr”, yaitu Syaikh Abû Amrû al-Dânî, mengambil transmisi keilmuan dari 24 Syaikh Thâhir b. Ghalbûn, beliau dari 25 Abû al-Hasan Alî b. Dâwûd al-Hâsyiimî, beliau dari 26 Syaikh Abû al-Abbâs al-Asynânî, beliau dari 27 Abû Muhammad Ubaid b. al-Shabbâh, beliau dari 28 Imam Hafsh, beliau dari 29 Imam Âshim, beliau dari 30 Abdullâh b. Habîb al-Sulamî, beliau dari 31 Sahabat Abdullâh b. Mas’ûd, beliau dari 32 Rasulullah SAW. Hidayatuna/MK

kata kata abuya dimyati